Rabu, 06 Januari 2010

Antek-antek kapitalis

Antek-Antek Kapitalis Bajingan



Tidakah mereka ―antek-antek kapitalis― memiliki perasaan. Manusia punya kodrat kedudukan sama sejak lahir. Tetapi keserakahan yang merengut kemerdekaan banyak orang. Sehingga harus lebih banyak darah, daging, dan nyawa orang, utamanya kaum miskin kota untuk di hisap.



Atas dalih kebebasan pasar. Mereka berlomba-lomba memperkaya diri masing-masing. Dasar tidak tahu diri, bukannya mereka orang pintar. Kepintaran mereka dijadikan kedok keberhasilan. Namun tetap saja, tak ada niat baik, yang ada hanya kebusukan. Jika ia berniat baik, maka kepintarannya bukan untuk bersaing sendirian, melainkan mengajari orang banyak untuk cerdas sama dengan mereka, dan maju bersama-sama. Kebersamaan di haramkan bagi mereka ―antek-antek kapitalis. Kepintaran berbuah kelicikan, picik, tak punya jiwa sosial, dan senang melihat penderitaan orang lain.


Mereka sesungguhnya bukan orang hidup, melainkan orang yang sudah lama mati. Hati mereka terbujur kaku, rasio mereka dibutakan hanya untuk bagaimana cara menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Di balik kesuksesan mereka adalah mayat hidup. Mereka adalah bangkai.


Mereka yang tak peduli kebenaran. Ah, apalah arti kebenaran jika tak menguntungkan. Otak mereka sekotor tong sampah yang belum jadi humus, baunya menyengat hingga menyentuh urat nadi membuat orang ingin muntah darah. Kebenaran satu-satunya adalah permintaan pasar. Jika sudah berhadapan dengan pasar. Kelakuan bringasan mereka menjadi berubah. Mereka orang munafik yang menjilat-jilat konsumen dan penguasa setempat. Sama-sekali tak punya harkat dan martabat sebagai manusia.


Tuhan bagi mereka hanya sarana untuk meminta melampaui kapasitas kepemilikan pribadi manusia. Harapan untuk membunuh semua lawan pasarnya, niat untuk menipu semua konsumen dan keuntungan haram yang berlipat-lipat menjadi panjatan do’a yang selalu diutarakan.


Bahkan tak jarang mereka yang bertamu ke dukun-dukun keparat untuk mendapatkan aji-aji mantra sakti mandraguna. Rasionalitas mereka tak dihiraukan lagi. Bagaimana para antek kapitalis mempercayai tahayul berlebihan untuk sekedar ingin merebut dan mempertahankan kekuasaan pasar. John Maynard Keynes saja motor neo-liberalisme ekonomi terlalu percaya pada ramalan garis tangan orang.


Sadarlah pembela kapitalis. Yang kau bela itu adalah iblis. Atau jangan-jangan kau sendiri adalah iblis itu sendiri. Jadi wajar jika sesama iblis saling membela satu dengan yang lain.

********

Kapitalisme tak pernah menyinggung dan menempatkan kaum miskinbaik sebagai objek maupun subjek. Mereka hanya mengetahui bahwa mereka miskin akibat dari sesalahannya sendiri. Mereka malas dan tak berpendidikan.

Ini tidak adil.

Kemiskinan, miskin, dan penderitaan yang di dera oleh mereka tak boleh di salahkan. Mereka sudah telalu menderita. Kenapa harus di salahkan.

Kapitalisme hanya menyengsarakan mereka. Di kota-kota metropolitan, jurang pemisah antara kaum borjuis dan kaum ploretariat semakin lebar. Sedemikian menderitanya, kaum miskin masih saja dianggap bukan manusia, melainkan binatang yang menyusahkan. Tempat tinggal mereka digusur, kesehatan mereka tak di jamin, pendidikan anak-anak mereka tak terpikirkan, dst.

Kapitalis tak pernah menempatkan kaum miskin sebagai sesuatu yang musti diperhatikan. Ini adalah kekejaman yang luar biasa.

Hanya Marx dengan berbagai gagasannya yang kemudian berpengaruh pada penerusnya, menempatkan kaum miskin sebagai subjek filsafatnya. Hanya ada dua subjek yang menjadi esensi dari kehidupan dan sejarah manusia, yakni kaum kapital dan kaum buruh. Tetapi kaum buruhlah yang pada akhirnya harus memenangi pertarungan, agar kesejahteraan umum dapat benar-benar dilaksanakan. Marx (1888) everywhere support every revolutionary movement against the existing social and political order of things.

Bahkan negara yang se-Kapitalis Amerika sekalipun, tak luput dari pengaruh teori antagonisme kelas yang dikonsepsikan oleh Marx. The U.S. archive contains information on the Black Panther Party and their revolutionary struggle to overturn the U.S. system of racial and working class oppression, and the Civil Rights Movement; documents of early Marxist parties and labor history. (Robert: 1864). Pembebasan ras kulit hitam atas revolusi dan perjuangan tiada henti untuk kepentingan emansipatoris.



Marx memang sudah mati, tetapi pikirannya tetap hidup. Ia menjadi inspirasi pemekir sesudah Marx menyempurnakan gagasan-gagasannya. Karl Kutsky (1854-1938) dengan keambrukan natural sistem kepemilikan individu, degradation or to overthrow the system of pivate property. Gerakan emansipasi perempuan, international women's movement yang di gawangi oleh Clara Zetkin. Pencetus warna kepartaian sosio-demokrat Rusia Georgi Plekanov (1856-1918). Bagaimana buruh mengelola industri dalam satu kesatuan tersendiri yang berbeda dengan para kapital, by workers organized into industrial unions (1852-1914). Pencetus kepemimpinan diktator yang berasal dari kaum buruh, the dictatorship of the working class oleh James Connolly (1868-1916). Rosa Luxemburg (1871-1919), yang mengkonstatasikan kepemimpinan buruh yang bukan berasal dari satu gerakan sosial massa, melainkan, the political leadership of the whole movement. Seorang penggagas revolusi rusia dan promotor Bolshevik, Nikolai Bukharin (1888-1938). Dan masih banyak lagi, tak kalah penting untuk disebutkan adalah mahzab kritis frankfurt, menjadikan teoritisasi Marx lebih sempurna menjawab tantangan zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar